Hati Manusia Ibarat Cermin
Tuesday, February 12th, 2008Hati Manusia Ibarat Cermin
Hati manusia ibarat sebuah cermin, hal yang dipikirkan di dalam hati manusia itulah yang akan diucapkan, dan selanjutnya hal itu akan dilakukannya. Pada malam hari jika ada sesuatu yang dipikirkan, maka keesokan hari hal itu pulalah yang akan dilakukannya. Perjalanan dari suatu keberhasilan atau kegagalan karir seseorang persis sama seperti pikiran di dalam hatinya, gambaran yang sering timbul di dalam benaknya, tak lama kemudian akan terefleksi di dalam kehidupan nyata. Di dalam hati seorang kultivator (seseorang yang menempa diri dalam hal kebaikan)selalu dipenuhi dengan Sejati, Baik, Sabar, maka apa pun yang diucapkan dan dilakukan akan senantiasa berprinsip pada Sejati, Baik, Sabar pula. Manusia biasa memandang nama, kepentingan, dan perasaan, sebagai kenikmatan dalam hidup, maka dari itu perkataan dan kehidupan nyata mereka senantiasa menjadikan pengejaran terhadap kenikmatan materi sebagai tujuan hidupnya. Di dalam kehidupan manusia ada sejumlah materi yang tak berwujud, yang baru dapat dilihat setelah dipercaya, yang baru dapat dimiliki setelah dijadikan angan – angan terlebih dahulu.
Menurut cerita pada masa perang dunia kedua ada seorang pianis yang ditawan oleh pasukan musuh dalam suatu ajang peperangan. Ia disekap di dalam kurungan yang ukurannya persis dengan tubuhnya, hingga 7 tahun lamanya. Setelah 7 tahun berlalu tubuhnya yang telah demikian tersiksa itu sudah tidak berdaya lagi, teman – teman di sekitarnya mati satu demi satu, tapi di dalam hatinya masih penuh dengan hasrat untuk tetap bertahan hidup. Setelah perang selesai, pianis tersebut diantar pulang ke negaranya, disana ia memulai hidup baru. Semua orang heran setelah mendapati bahwa kemampuan bermain pianonya bukan hanya tidak mengalami kemunduran, namun justru lebih mahir dibandingkan sebelum ia menjadi tahanan. Ternyata selama menjadi tawanan perang, untuk mengatasi rasa takut yang amat sangat, juga untuk menyemangati dirinya untuk tetap bertahan hidup, setiap hari dia selalu bermain piano di dalam benaknya, semua gerakan yang berada di dalam benaknya selama tujuh tahun itu, persis sama dengan gerakan dalam keadaan nyata, semua bagian hingga yang terkecil diingatnya dengan sangat jelas, sedikit pun tidak ada perbedaan.
Kisah si pujangga besar pada jaman Dinasti Song yang bernama Su Dongpo, suatu saat ia sedang duduk bersemedi bersama seorang bhiksu bernama Foyin. Setelah beberapa saat berlalu, Su Dongpo membuka matanya dan bertanya pada Fo yin, “Coba anda lihat, saya duduk bersemedi begini terlihat seperti apa?” Foyin melihat sekujur tubuh Su Dongpo dengan seksama, kemudian mengangguk – anggukkan kepalanya dan memuji, “Anda terlihat seperti Buddha (Sang Sadar)yang agung dan khidmat.” Mendengar pujian dari Foyin, diam – diam Su Dongpo merasa sangat senang. Tak lama kemudian, Foyin balik bertanya pada dirinya, “Coba anda lihat, saya sendiri seperti apa?” Su Dongpo sengaja ingin mengolok – olok Foyin segera menjawab, “Saya lihat anda seperti seonggok kotoran sapi.” Setelah mendengar perkataan itu Foyin hanya tersenyum, dan sama sekali tidak melontarkan sepatah kata pun. Su Dongpo mengira ia telah berhasil mengerjai Foyin, setibanya di rumah ia segera menceritakan kejadian itu kepada adik perempuannya, Su Xiaomei. Tak di sangka setelah sang adik mendengar seluruh cerita tersebut bukannya memuji dirinya, bahkan sebaliknya menertawakan sang kakak yang pikirannya lamban. Dengan penuh rasa ingin tahu ia bertanya pada sang adik, “Mengapa kamu menertawakan aku?”
Dengan sepasang mata yang berbinar penuh akal, Su Xiaomei pun menjawab, “Di dalam hati Bhiksu Foyin ada Buddha, (Sang Sadar) maka ia memandang dirimu seperti Buddha, sedangkan di dalam hatimu hanya ada kotoran sapi, jadi melihat orang lain juga seperti kotoran sapi!”
Dari kisah ini dapat diketahui, dari perkataan orang yang mengkritik orang lain, tidak dapat diketahui secara pasti akar permasalahan dari orang yang dikritik tersebut, namun dari kata – kata kritikan itu dapat diketahui apa yang ada di dalam hati pikiran si pengkritik, pandangannya, pengetahuan, dan pengalaman serta taraf pemikirannya. Ini disebabkan oleh karena hati manusia seperti cermin, ketika seseorang mencaci maki orang lain, makian itulah merupakan pencerminan sesungguhnya dari taraf dan perangai orang yang mencaci tersebut, kondisi pikirannya, dan taraf pemikiran jiwanya juga kurang lebih sama seperti itu. “Cahaya Ilahi menerangi seluruh penjuru, menegakkan kebenaran memberikan penerangan.” Jika di dalam hati seorang kultivator senantiasa dipenuhi dengan kedamaian dan belas kasih, pasti bisa membuat takdir pertemuan yang buruk dalam hidupnya terurai menjadi kebajikan, maka segala sesuatu dalam pandangan hidupnya akan menjadi indah.